TULANG BAWANG BARAT,--Skandal memalukan mencoreng dunia pendidikan Tulang Bawang Barat. Kepala SDN 16 Gunung Agung, inisial Boirin, diduga memalsukan surat hibah dan mencatut tanda tangan kepala sekolah yang sudah meninggal untuk memuluskan proyek rehabilitasi WC senilai Rp 67.459.000 dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024.
Ironisnya, bangunan WC yang direhab itu bukan aset sekolah. Sejak awal itu adalah aset milik Tiyuh Suka Jaya yang dipakai warga untuk mandi, cuci, dan kebutuhan MCK umum.
Aset milik desa disulap jadi milik sekolah, lalu direhab pakai uang negara. Modus ini terendus setelah aparat Tiyuh dan warga heran melihat aset mereka tiba-tiba dikuasai sekolah.
Berdalih Hibah, Tapi Arsip Desa Kosong
Saat dikonfirmasi, kepsek Boirin, berdalih bangunan itu sudah dihibahkan Tiyuh ke sekolah.
Namun bantahan keras datang dari Kepala Tiyuh Suka Jaya saat itu, Munar, Ia menegaskan tidak tau dan tidak pernah mendengar jika pemerintah Tiyuh Suka Jaya menghibahkan bangunan tersebut bahkan, "Surat hibah sudah pernah saya cari tapi tidak ada di arsip Tiyuh."
"Masih ditahun yang sama 2025, Kabid Dikdas Tubaba, Badri, via WhatsApp mengirimkan surat hibah ke wartawan sambil menulis: "Assalamualaikum Alhamdulillah sudah ketemu pak surat hibah itu".
Justru surat kiriman Badri itulah yang membongkar borok lebih besar.
3 Kejanggalan Fatal yang Tak Bisa Dibantah
Tim investigasi menemukan 3 bukti telak dugaan pemalsuan:
1. MATERAI SILUMAN. Surat hibah tertulis dibuat 14 Januari 2020. Anehnya, materai yang tertempel adalah materai Rp 10.000. Padahal materai Rp 10.000 baru resmi diterbitkan pemerintah pada awal 2021. Pada 2020, materai yang berlaku masih Rp 6.000.
2. TANDA TANGAN ORANG MATI. Di surat itu tercantum tanda tangan Kepsek sebelumnya, Sugiyana. Fakta mencengangkan, Sugiyana sudah meninggal dunia pada tahun 2023. Diduga kuat tanda tangannya dipalsukan.
3. SURAT BACKDATE. Surat diduga kuat baru dibuat tahun 2024 saat proyek akan berjalan, namun tanggalnya sengaja dimundurkan menjadi 2020 agar terlihat sah.
Pengakuan Mengejutkan Mantan Kades: Boirin Bilang, Tanda Tangan Saja, Saya Tanggung Jawab
Teka-teki akhirnya terjawab dari mulut mantan Kepala Tiyuh Suka Jaya, Tukimun.
Tukimun blak-blakan mengaku didatangi Boirin.
"Sekitar tahun 2024 pas SDN 16 Gunung Agung direhab, saya didatangi Boirin membawa surat hibah minta tanda tangan saya, katanya tanda tangan saja nanti kalau ada masalah ia siap tanggung jawab," ungkapnya.
"Awalnya saya tolak karena saya sudah tidak menjabat dan sudah tidak ada cap basah. Dijawab sama Boirin, tanda tangan saja semua nanti saya yang tanggung jawab. Dengan berat hati saya tanda tangani," beber Tukimun.
Yang paling mengejutkan, Tukimun menegaskan saat ia tanda tangan, belum ada tanda tangan lain di surat itu.
Terpojok Video Pengakuan, Kepsek Mengemis Minta Kekeluargaan
Dikonfirmasi ulang Jumat (15/08/2026), Boirin awalnya berkelit. "Surat hibah itu memang sudah ada, saya dapatkan dari kampung, dari Tukimun," kilahnya.
Namun saat tim menunjukkan video pengakuan Tukimun, Boirin langsung melunak dan mengakui.
Dengan nada memelas ia meminta kasus ini dibungkam.
"Tolonglah masalah ini jangan diperpanjang, masak kalian tidak kasihan kepada saya, saya setahun lagi pensiun. Kita selesaikan secara kekeluargaan saja," pinta Boirin.
Pernyataan plin-plan dan upaya minta damai itu semakin menguatkan dugaan pemalsuan dokumen negara.
Atas temuan ini, tim investigasi akan menempuh jalur hukum dan segera melaporkan dugaan tindak pidana pemalsuan surat dan penyalahgunaan wewenang ke Aparat Penegak Hukum (APH).
Ini tamparan keras bagi dunia pendidikan Tubaba. Proyek untuk siswa, diduga dijalankan dengan cara kotor, memalsukan dokumen, bahkan sampai mencatut tanda tangan orang yang sudah meninggal.(Tim)
0 Komentar